Tergeletak, Karyawan PHL Tewas Saat Bekerja Diduga Riwayat Penyakit Jantung

Tergeletak, Karyawan PHL Tewas Saat Bekerja Diduga Riwayat Penyakit Jantung

Pangkalpinang

PANGKALPINANG, BBC - Salah satu karyawan PT Pahala Harapan Lestari (PHL) bertempat di Ketapang, Pangkalbalam, Provinsi Bangka Belitung (Babel) bernama Iswandi (54) meninggal dunia. Korban ditemukan tergeletak ditempat kerjanya di kapal Citaxy 601.
 
Dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, Iswandi menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, lantaran diduga sempat tersandung dan terjatuh di lokasi kerja.
 
Seorang saksi yang juga pekerja di perusahaan dok kapal itu yang melihat korban terjatuh langsung berlari dan mengangkat rekan kerjanya dengan bantuan teman pekerja lain.
 
Iswandi saat itu dalam kondisi pingsan langsung di bawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan tim medis, namun sayangnya nyawa korban tak tertolong lagi.
 
Kapolres Pangkalpinang, AKBP Iman Risdiono Septana menceritakan, peristiwa yang menyebabkan pegawai PT PHL meninggal dunia terjadi pada Jumat (22/6/18) pagi sekitar pukul 08.45 WIB. Saat ini pihak kepolisian menyimpulkan korban diduga meninggal diakibatkan lantaran menderita penyakit jantung.
 
"Saat kejadian, saksi saudara Ahmad Isa baru datang menuju ke kapal dan melihat korban (Iswandi - red) sudah tergeletak di lantai kapal Citaxy 601. Lalu, saudara Ahmad memanggil salah satu ABK saudara Sidiq untuk meminta tolong membantu mengangkat korban," ujarnya kepada awak media di Polres Pangkalpinang, Jumat (22/6/18).
 
Menurutnya, pada saat perjalanan menuju ke Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) Pangkalpinang, korban diduga masih dalam kondisi bernafas. Namun, ketika sampai ke Rumah Sakit, korban sudah menghembuskan nafas terakhir.
 
"Terkait pemeriksaan sudah dilakukan dokter, dan keterangan dari tim dokter korban memang ada riwayat sakit jantung dan kemungkinan meninggal karena penyakitnya," terang Kapolres.
 
Selain terjatuh dan pingsan di lokasi, lanjut Iman korban yang meninggal ketika bekerja tersebut ditemukan ada luka sedikit memar di wajahnya. Kemungkinan luka memar ini disebabkan karena terjatuh tertelungkup pada saat sedang bekerja.
 
"Jadi, sekarang ini kuat dugaan pure (murni) penyakit jantung, tapi untuk saat ini pemeriksaan lanjutan kami akan perintahkan Satpolair Polres untuk melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap saksi-saksi yang melihat kemungkinan barang kali di situ ada unsur tindak pidana tetap kita sesuai prosedur," tuturnya.
 
Sementara tetangga korban, Sopian menyebutkan bahwa bapak Iswandi sudah bekerja belasan tahun di perusahaan PHL dan memiliki riwayat penyakit jantung usai diperiksa di RS sekitar empat tahun lalu. Pasca mengidap penyakit jantung, Iswandi  berhenti merokok.
 
"Bapak Iswandi kuat merokoknya, namun usai divonis dokter ada penyakit jantung dia pun berhenti merokok. Dia kerjanya di Dok kapal milik PT PHL dan divonis dokter menderita penyakit jantung sekitar empat tahun yang lalu," papar Sopian.
 
Dikesempatan yang sama, disela jenazah korban dibawa ke masjid untuk disholatkan, Human Resources Departemen (HRD) PT. Pahala Harapan Lestari (PHL), Hary sempat menolak untuk difoto atau divideokan oleh awak media. Namun, dirinya mau dimintai hak jawab tanpa difoto melalui kamera oleh jurnalis televisi media nasional.
 
"Maaf jangan difoto dan divideokan. Tapi kita punya hak untuk menjawab. Sorry bang, untuk tv saya enggak mau," elaknya ketika akan diwawancarai.
 
Pihak perusahaan ditempatnya bekerja turut berdukacita atas musibah yang terjadi pada salah satu pegawai, yakni Iswandi. "Kita menghargai privasi keluarga korban atas insiden ini, oleh karenanya kami sudah bicara dengan pihak keluarga. Sebab, ke depannya ada proses administrasi yang harus kita urus," imbuhnya.
 
Mengenai kronologis, kata Hary kejadiannya belum bisa dijelaskan secara rinci, karena pihak perusahaan sudah melaporkan ke petugas kepolisian dan koordinasi dengan pihak pelabuhan.
 
"Pada saat kejadian, saya kurang memahami tapi nanti kita akan kasih informasi lebih lanjut mengenai hal-hal tersebut. Karena kita sudah menyerahkan ke penegak hukum atas musibah ini," terangnya.
 
Perihal keselamatan kerja untuk karyawan, lanjutnya safety first selalu di ke depankan, K3 perusahaan sudah ada ISO dan OHSAS semuanya bukan dari kelalaian kerja. Jadi harus tahu apa penyebabnya dulu, baru kita bisa bicara. Karena pada saat itu korban sudah terjatuh.
 
Korban juga sebelumnya memiliki riwayat penyakit, tapi pada saat bekerja dalam kondisi sehat. Soal tanggungjawab perusahaan, kita mengikuti rules atau aturan BPJS, seluruh karyawan kita di perusahaan kita tanggung menggunakan BPJS, dan BPJS pasti bertanggung jawab atas hal itu.
 
"Jadi saya kira tidak ada persoalan, hanya saja kita berduka cita kepada keluarga atas musibah tersebut. Dari pihak keluarga juga sudah mengikhlaskan, karena adanya riwayat penyakit pada korban," jelas Hary.
 
"Terkait pembinaan anak-anaknya kita ikut ketentuan, pada BPJS itu kalau anaknya masih sekolah ada tanggungannya. Di perusahaan kita, seluruh karyawan ditanggung BPJS dengan adanya BPJS ini kita tidak perlu khawatir lagi kepada karyawan-karyawan kami. Pada intinya kita tidak ingin ada kecelakaan kerja," pungkasnya.(man)

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top