Panderita Kanker Payudara Ganas Asal Merawang Bangka Ini, Butuh Uluran Tangan Pemerintah dan Dermawan

Panderita Kanker Payudara Ganas Asal Merawang Bangka Ini, Butuh Uluran Tangan Pemerintah dan Dermawan

Bangka

MERAWANG, BBC - Halimah (38) warga Desa Jurung Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, istri dari Syamsudin (54) hanya bisa pasrah, lantaran penyakit payudara ganas. Ibu dari empat anak ini sudah 3 tahun terakhir menderita penyakit kanker payudara yang di deritanya.

Kini keluarga Halimah sangat mengharapkan uluran tangan para darmawan guna biaya pengobatan penyakit kanker payudara dialaminya.

Anak sulung Halimah bernama Sherly (20) menceritakan penyakit yang diderita sang Ibu, awalnya hanya benjolan kecil di payudara sebelah kanan. Namun, lama-kelamaan benjolan itu semakin membesar dengan rasa sakit yang luar biasa.

"Kami sudah pernah membawa ibu kami ke rumah sakit RSUD Sungailiat dan dinyatakan ada benjolan di payudara dan harus dioperasi. Selang waktu operasi, payudara ibu sebelah kanan habis di angkat," ujarnya ditemui BBC di Bangka, Kamis (19/7/18).

Pasca operasi, lanjut Sherly dokter menyarankan pihak keluarga untuk mengecek benjolan tersebut apakah kanker ganas atau jinak. Hanya saja, pihak keluarga memutuskan tidak memeriksanya karena tidak memiliki biaya.

"Untuk mengecek benjolan butuh biaya Rp1 juta. Dulu selesai operasi, ibu sempat sehat tapi hanya 8 bulan saja lalu benjolan tumbuh lagi di bekas operasi pertama, dan kini benjolan itu semakin membesar dengan rasa yang sangat sakit," tuturnya sedih.

Akhirnya, pihak keluarga kembali membawa ibu Halimah ke RSUD Sungailiat, Bangka. Sesampainya di rumah sakit, dokter menyarankan agar ibu di operasi untuk kedua kalinya.

"Kami setuju untuk itu, usai operasi dokter menyarankan kami untuk membawa ibu kemoterapi di Palembang, Sumsel. Pihak keluarga tak bisa membawa ibu berangkat untuk kemoterapi dikarenakan biaya, jadi kami membawanya pulang ke rumah," ia menuturkan.

Sherly juga menyebutkan bahwa, usai operasi kedua kurang lebih 8 bulan ibu dinyatakan hamil karena kebobolan. Padahal sebelumnya, dokter telah menyarankan ibu tidak boleh KB, dan tumbuh benjolan lagi di tempat lama.

Mendengar itu pihak keluarga tidak bisa berbuat apa-apa dan kehamilan ibu dipertahankan sampai melahirkan. Selama masa kehamilan, benjolan tersebut semakin membesar disebabkan hormon kehamilan.

Hingga kemudian melahirkan secara caesar di RSUD Dr. (H.C). Ir. Soekarno, usai operasi melahirkan satu bulan setelahnya kembali dilakukan operasi ketiga untuk pengangkatan benjolan kanker di RSUD Dr. H.C Ir. Soekarno.

"Selesai operasi ketiga jarak satu minggu bekas operasi ibu kami bolong karena benang putus, sebab kulit ibu kami tidak bisa ditarik dan dijahit. Kami membawanya lagi RS untuk dioperasi penampalan lobang bekas operasi dari daging paha ibu kami. Operasi berjalan lancar kami membawa ibu pulang ke rumah pasca 3 hari di rawat di RS," terang Sherly.

 

Ternyata derita Halimah belum kunjung berakhir, sehat selama 9 bulan benjolan itu tumbuh lagi dan lama kelamaan benjolan semakin membesar. Pihak keluarga pun lantas membawa Halimah ke RS, sang dokter menyarankan lagi untuk kemoterapi di Palembang, dan pihak keluarga tetap tidak bisa berbuat banyak.

Lagi-lagi dikarenakan biaya jadi faktor utamanya, pilihan operasi untuk ke empat kalinya pun harus ditempuh Halimah namun seperti biasa tetap sama tidak mendapati kesembuhannya.

"Kasihan liat ibu siang dan malam mengeluh kesakitan, sebagai anak saya gak tega lihat ibu terus-terusan begini akibat penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh-sembuh," tukas Sherly seraya lirih sembari menahan tangisnya.

Mirisnya lagi, dalam kondisi menyedihkan dan semakin terpuruk disayangkan hingga saat ini, Halimah belum mendapatkan perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah (Pemda) setempat.

"Selama ini ibu belum pernah mendapat bantuan serta perhatian apapun dari pemerintah daerah maupun Pemprov. Demi ibu, untuk biaya berobat bapak menyisihkan uang sedikit dari gajinya. Karena untuk makan sehari-hari juga susah. Penghasilan ayah kami Rp450 ribu perminggunya. Karena ayah memang bekerja gajinya seminggu sekali," pungkas Sherly.(man)

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top