Diduga Memalsukan Akte Jual Beli Tanah, Akhiong Dilaporkan ke Polisi

Diduga Memalsukan Akte Jual Beli Tanah, Akhiong Dilaporkan ke Polisi

Pangkalpinang

PANGKALPINANG, BBC - Kuasa hukum Ishak Bong (alm), Marusaha Sitorus (53) telah melaporkan saudara Akhiong alias Rustam ke Polda Kepulauan Bangka Belitung terkait dengan dugaan pemalsuan akte jual beli tanah.
 
"Hari ini kita melaporkan saudara Akhiong alis Rustam ke Polda Babel terkait dengan dugaan tindak pidana pemalsuan akte jual beli tanah dan tindak pidana penipuan dan penggelapan," kata Marusaha Sitorus kepada wartawan, Senin (27/8/18).
 
Ia mengatakan bahwa kliennya tidak pernah melakukan jual beli tanah tersebut. Hanya saja, pada tahun 1996 saudara Ishak Bong pernah meminjam sejumlah uang kepada saudara Akhiong dengan jaminan sertifikat HGB nomor 1183.
 
"Tahun 1996 klien kita meminjam uang sebesar Rp 100 juta kepada saudara Akhiong untuk melunasi pinjaman di salah satu Bank dengan jaminan sertifikat HGB. Pada tahun 2002, sebelum meninggal, Ishak Bong meminta kepada ahli warisnya untuk melunasi hutangnya kepada saudara Akhiong. Kemudian pada tahun 2004, klien kita ini diusir oleh saudara Akhiong dengan mengaku sudah melakukan jual beli, tapi sampai saat ini ia tidak pernah bisa menunjukkan bukti akte jual beli tersebut," jelasnya.
 
Lebih lanjut, ia mengatakan, jika kliennya sudah berulang-ulang menemui saudara Akhiong untuk meminta bukti akte jual beli, namun tidak pernah bisa ditunjukkan bukti jual beli itu oleh saudara Akhiong.
 
"Kita juga sudah melakukan pertemuan dengan saudara Akhiong di Jakarta Utara tepatnya di Kelapa Gading. Namun saudara Akhiong juga tidak mau menunjukkan akte jual beli, hanya mengatakan bahwa tanah tersebut sudah dibeli pada tahun 1997," ujarnya.
 
Karena tidak bisa menunjukkan bukti akte jual beli tersebut, Marusaha Sitorus menduga bahwa saudara Akhiong telah memalsukan akte jual beli tahun 1997 itu dengan memalsukan tanda tangan orang tua kliennya setelah dia sudah meninggal dunia.
 
"Ada dugaan tindak pidana pemalsuan akte jual beli yang dimaksud dia (Akhiong_red) tahun 1997, Karena klien kita maupun ahli warisnya tidak pernah menandatangi akte jual beli saudara Akhiong. Dan sekarang kita pasang nama bahwa tanah itu milik Ishak Bong sampai sekarang pun tidak ada yang menemui kita dan tidak ada yang keberatan," katanya.
 
Kemudian ia mengatakan, atas kejadian tersebut, kliennya mengalami kerugian sebesar Rp 9 Milyar. Untuk itu ia berharap pihak Polda Babel bisa segera memanggil saudara Akhiong untuk menyelesai masalah tersebut.
 
"Saat ini rumah tersebut dalam kondisi kosong sejak dikosongkan pada tahun 2004. Sampai sekrang tidak ada yang menepati," ujarnya.
 
Sementara itu, Kabid Humas Polda Babel, AKBP Abdul Mun,im saat dihubungi melalui WhatsApp mengatakan setiap masyarayakat Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Babel akan diteruskan kepada penyidik untuk dipelajari laporannya.
 
Terkait dengan laporan masalah pemalsuan akte jual beli tanah, ia mengatakan akan di teruskan ke Ditreskrimum untuk dipelajari dan dilakukan penyelidikan terlebih dahulu, apakah laporan tersebut ada unsur pidananya.
 
"Kalau hasil lidik ada unsur pidana, maka akan ditingkatkan ke proses sidik untuk menemukan dan mencari tersangkanya," ujarnya.(man)

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top