EW Terus Maksimalkan Bantuan Untuk Babel, Ini Salah Satu Yang Dilakukannya

EW Terus Maksimalkan Bantuan Untuk Babel, Ini Salah Satu Yang Dilakukannya

Politik

PANGKALPINANG, BBC - Upaya maksimal terus dilakukan oleh Eko Wijaya, anggota DPR RI yang duduk di Komisi VII, sebagai wakil rakyat daerah pemilihan (dapil) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Lewat jaringan kemitraan, EW-demikian ia akrab disapa pihaknya di Komisi VII sukses membantu masyarakat Babel khusus para petani untuk mendapatkan alokasi bantuan bibit.

Dijelaskan EW, bantuan bibit di bidang pertanian ini disalurkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). "Jadi LIPI ini salah satu mitra kita di Komisi VII DPR RI. Lewat hubungan kemitraan ini kita mendapatkan bantuan (bibit), termasuk petani di Babel," kata EW lewat keterangan tertulis yang diterima Redaksi, Rabu (13/3/2019).

Kepentingan masyarakat Babel, kata EW, adalah prioritas dirinya yang diamanahkan oleh masyarakat. "Makanya amanah ini akan saya semaksimalkan untuk memberikan dampak yang baik untuk masyarakat Babel," ungkap Ketua DPW Partai Demokrat Babel ini.

Didampingi salah satu Pengurus PD Demokrat Babel, Firmandyah, EW mengemukakan, bantuan bibit itu disalurkan sejak tahun 2017 lalu. Seperti bibit lada,  kelapa hibrida, mangga termasuk bibit jati.

Diterangkan Firmandyah yang juga bertindak selaku Tenaga Ahli DPR RI itu, seperti tahun 2017, ada 3000 bibit masing-masing kelapa hibrida, mangga, lada, dari LIPI yang dibagikan dalam acara “Pengenalan Konservasi dan Pengembangan Potensi Daerah”.

”Dan itu disalurkan ke Desa Bukit Layang Bangka. Kita Komisi VII adalah mitra LIPI di situ,” tegasnya. Begitu juga tahun 2018, ada 1000 bibit jati dari LIPI yang dibagikan melalui acara, Pemanfaatan dan Penerapan Iptek untuk Masyarakat yang disalurkan di ke Desa Pergam Bangka Selatan.

”Termasuk 500 bibit lada dari BPPT yang dibagikan dalam acara “Diseminasi Teknologi Perbanyakan Bibit Tanaman Lada Secara Ex Vitro” yang disalurkan ke Desa Air Ruai, Pemali, Bangka Induk,” demikian katanya.(bbc)

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top