Usai di Parittiga, 5 Excavator kembali Obrak-abrik Hutan Lindung di Kecatan Lubuk
Dua unit excavator yang sedang beraksi di kawasan Hutan Lindung (HL) Sarang Ikan Kecamatan Lubuk Besar. Kegiatan serupa juga ditemukan di kawasan HL Merapin IV.(foto-ist)

Usai di Parittiga, 5 Excavator kembali Obrak-abrik Hutan Lindung di Kecatan Lubuk

Nasional

  • Ada Nama Bos AB dan MC Sebagai  Pemilik Excavator dan  Penampun Pasir Timah

Bangka Tengah – Usai viral pemberitaan terkait 8 unit excavator di kawasan HL Pasir Panjang Kemuda dan Tambang Besar Ketap parittiga pada Kamis (2/4/20) lalu, kegiatan serupa kembali terjadi. Kali ini 5 unit excavator dan dengan kegiatan penambangan illegal kembali terjadi di dua lokasi yakni kawasan Hutan Lindun (HL) Sarang Ikan dan Merapin VI Kecamatan Lubuk, Besar Bangka Tengah. Kondisi HL Sarang Ikan dan Merapin IV pun terlihat sangat memprihatinkan, akibat operasional tambang dan excavator. Anehnya meski sudah beberapa kali ditertibkan, namun tidak membuat jera para perusak hutan lindung tersebut.

Dikutip dari laman lensabangkabelitung.com kegiatan penambangan illegal di kawasan HL Sarang Ikan tersebut seolah tidak lagi peduli pihak peneggak hukum, pasalnya suara mesin dari aktivitas tambang illegal tersebut jelas terdengar sejak masuk ke lokasi. Semakin mendekat ke sumber suara tersebut. Di sekitar tambang illegal tersebut 2 unit excavator meraung-raung membabat kawasan hutan lindung. Pemandangan lainnya, terdapat Tambang Inkonvensional (TI) Rajuk diujung kawasan tak jauh dari alat berat beroperasi.

“TI Rajuk yang di ujung itu punya anggota, Bang. Kalau yang lain itu punya masyarakat setempat. Kalau PC memang dua yang beraktivitas tapi sepengetahuan kami banyak. Titik lokasi saja yang tidak tahu karena sudah ke dalam hutan,” ujar salah satu penambang seperti dikutip dari lensabangkabelitung.com, Minggu (5/4/20) siang..

Serupa dengan yang terjadi di kawasan HL di Sarang Ikan tersebut, aktivitas perambahan dan penambangan illegal serupa juga dilakukan di kasawan HL Merapin VI Kecamatan Lubuk Besar.  Di lokasi kedua ini terdapat 3 unit alat berat jenis excavator. 2 alat berat sedang beroperasi normal sedangkan 1 alat berat dalam keadaan tidak beroperasi karena rusak. Salah satu warga yang ditemui di lokasi. Warga tersebut mengatakan alat berat yang beraktivitas itu merupakan alat berat yang diperbantukan dengan sistem sewa.

“Sewa PC (excavatoe-red) Rp 450 ribu per jam tanpa solar karena untuk solar ditanggung penyewa. Minimal sehari 10 jam. Jadi untuk sewa alat untuk 10 jam sekitar Rp 4,5 juta. Biaya untuk solar per jam sekitar Rp 680 ribu sampai Rp 700 ribu per jam. Nah untuk modal kerja kita dimodali oleh MN, dan pasir timah yang kita dapatkan di sini di jual ke Bos MN itu” ujar dia.

Warga itu mengatakan dua unit alat berat yang beroperasi tersebut untuk tambang yang menggunakan mesin fuso. Selain itu, aktivitas alat berat di area tersebut cukup banyak, bahkan sejak di lokasi Merapin II.

“Kalo di Merapin itu banyak PC tapi tidak tahu di mana lokasinya. Beberapa waktu lalu sempat dirazia sehingga ada yang ditarik. Tapi tetap masih ada PC yang beraktivitas. Salah satu penyewa PC bos itu adalah AB warga Pangkalanbaru Tapi saat ini mereka tidak bisa kerja karena belum ada PC yang sudah dipesan belum datang. Status lahan HL di sini banyak HL,” jelasnya.

Kapolres Bangka Tengah AKBP Slamet Ady Purnomo saat dikonfirmasi Minggu (5/4/20) malam mengatakan akan menyelidiki informasi terkait aktivitas illegal kawasan HL di Lubuk Besar tersebut.

“Terkait itu, akan kami lakukan penyelidikan,” jawab kapolres singkat melalui pesan whatsapp. (red)

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top