Setelah SIKK, Giliran SKAB PT. Pulomas Diduga Abal-abal

Setelah SIKK, Giliran SKAB PT. Pulomas Diduga Abal-abal

Hukum

 
 
 
PANGKALPINANG BBC - Dugaan berbagai masalah yang melilit PT. Pulomas Sentosa mulai terkuak satu persatu. Setelah sebelumnya Surat Ijin Kerja Keruk (SIKK) yang dikeluarkan oleh Bupati Bangka, Mulkan, diduga menabrak Permenhub RI No 125 tahun 2018, kini masalah baru pun mulai terkuak. PT. Pulomas diduga telah menerbitkan Surat Keterangan Asal Barang (SKAB) abal-abal. Pasalnya dari informasi yang didapat wartawan di lapangan, SKAB Nomor 122/SKAB/PMS/IX/2020 tanggal 19 September 2020 yang menjadi dokumen Pasir sebanyak 4.635 ton dalam Tongkang Buana Ocean 24 yang digandeng Tugboat Buana Supreme dan SKAB 123/SKAB/PMS/IX/2020 tanggal 21 September 2020 sebagai dokumen asal pasir 4.728 ton muatan Tongkang Buana Ocean 05 gandengan Tugboat Buana Power, diambil dari luar wilayah ijin konsesi PT, Pulomas.
 
Menurut keterangan dari sumber YS, bahwa pada tanggal 19 Kapal penghisap pasir Liheng (LH) 6 milik didapati mengisi Tongkang Buana Ocean 24. Posisi Kapal LH 26 yang diketahui milik PT. Cahaya Dwi Persada yang dinahkodai kapten Max tersebut melakukan aktivitas pengisian pasir ke Tongkang Buana Ocean 24 pada jarak sekitar 1 mil di luar batas koordinat ijin kerja keruk PT. Pulomas. Anehnya pihak PT. Pulomas melalui kepala cabangnya Yanto alias Acun, pada tanggal 19 September 2020 tersebut merilis SKAB nomor 122/SKAB/PMS/IX/2020. dengan tujuan penerima PT. Kartono Sari Cemerlang, untuk dibongkar di kawasan pelabuhan Marunda Jakarta Utara. Keberangkatan armada yang ditarik Tugboat Buana Supreme tersebut menuju Jakarta Utara disertai Surat Persetujuan Berlayar (SPB) nomor 1.1.3/KSOP/IV/WK/25/09/2020/.
 
"Saat itu posisi kami sekitar 300 meter dari batas wilayah ijin PT. Pulomas, sementara Kapal Liheng 6 itu jauh lagi dari kami, saya perkirakan posisi aktivitas pengisian Tongkan Buana Ocean 24 itu sekitar 1 sampai 1,5 mil di luar koordinat wilayah kerja PT. Pulomas. Seharusnya operasi kapal tersebut bukan disana, akan tetapi di dalam wilayah ijin kerja keruk PT. Pulomas. Lha kalau di luar mengambilnya dari luar wilayah ijin maka seharusnya kegiatan tersebut langsung dihentikan. dan SKAB nya tidak boleh dikeluarkan. Karena tidak singkron. Karena itu sama dengan melegalkan barang yang proses pengambilannya ilegal," jelas YS kepada sejumlah wartawan. 
 
Sukses meloloskan ribuan meter kubik pasir kwarsa di tongkang berukuran 230 feet tersebut, PT. Pulomas Sentosa kembali melakukan aktifitas penambangan diduga ilegal. Tanggal 21 September 2020, aktivitas serupa kembali dilakukan oleh  PT. Pulomas Sentosa. Yanto alias Acun merilis SKAB bernomor 123/SKAB/PMS/IX/2020, sebagai keterangan asal 4.728 pasir kwarsa yang dibawa Tugboat Buana Power dalam Tongkang Buana Ocean 05 yang digandengnya menuju Marunda. Padahal Pada tanggal yang sama dengan terbitnya SKAB tersebut, Kapal Liheng 6 didapati mengisi Tongkang Boana Ocean 05 dijarak sekitar 1,5 mil dari batas wilayah Ijin Kerja Keruk PT. Pulomas. 
 
Parahnya informasi yang diterima wartawan menyebutkan bahwa atas aktifitas ilegalnya tersebut PT. Pulomas telah diadukan ke pihak aparat hukum. Namun belum terkonfirmasi apakah Polda atau Polairud yang menerima pengaduan tersebut. Diduga wilayah di mana kapal Liheng 6 beraktifitas mengisi tongkang Buana Ocean 24 dan 05 tersebut merupakan kawasan konsesi milik PT. Seputih Makmur Bersama (SMB). PT SMB sendiri hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi terkait kebenaran adanya laporan pengaduan tersebut. Namun informasi terpercaya menyebutkan bahwa PT. SMB menduga Pulomas melalui operator pengerukan telah melakukan pencurian pasir kwrasa di kawasan konsesi milik mereka.
Namun pihak PT Pulomas Sentosa saat di konfirmasi melalui whas app belum memberikan jawaban.(red) 

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top