Muara Pelabuhan Perikanan Sungailiat Tertutup Pasir, 2 Unit Kapal Nelayan Pecah

Muara Pelabuhan Perikanan Sungailiat Tertutup Pasir, 2 Unit Kapal Nelayan Pecah

beritababel

 

BANGKA BBC - Kondisi muara Pelabuhan Nusantara Sungailiat saat ini sangat mengkhawatirkan.

Pasalnya alur muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat yang biasa dilalui kapal-kapal nelayan saat ini kembali tertutup oleh tumpukan pasir yang diduga berasal dari longsoran gunung pasir di kanan kiri muara.

Akibat tertutupnya alur muara tersebut, sedikitnya 2 unit kapal milik nelayan mengalami laka laut kapal pecah dalam satu pekan terakhir.
"Sudah 2 unit kapal nelayan pecah saat hendak masuk ke Muara Pelabuhan ini. Penyebabnya diterjang ombak saat kapal terjebak di alur muara," ujar salah satu nelayan saat itu ikut menyaksikan kondisi alur muara yang tertutup pasir, Rabu (13/1/21).

Kondisi tertutupnya alur muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat ini, dikatakannya sudah berlangsung sekitar satu minggu.
"Sudah sekitar satu minggu, kapal para nelayan berlabuh di luar muara. Tidak berani masuk takut kapalnya pecah. Harus menunggu hingga waktu subuh, baru bisa masuk," katanya.

Terpisah, Kaling Nelayan 2 Sungailiat, Sarifudin membenarkan jika di alur muara Pelabuhan Perikanan Sungailiat sempat terjadi laka laut kapal pecah. Menurut dia diduga penyebabnya lantaran alur muara tertutup oleh pasir longsoran yang berasal dari gunung pasir di kanan kiri muara tersebut.
"Benar, telah terjadi laka laut kapal pecah di alur muara pelabuhan Perikanan Sungailiat. Laka laut tersebut disebabkan kondisi muara yang tertutup pasir sehingga kapal tertahan di muara kemudian dihantam ombak akibatnya kapal pecah," ungkap Sarifudin melalui telepon selulernya.

Kenapa muara bisa tertutup pasir? Bukankah setiap hari dikeruk dan pasirnya diangkat?
Sarifudin menegaskan bahwa meskipun pasirnya dikeruk setiap hari, muara tersebut tetap akan tertutupi pasir kembali oleh longsoran pasir yang berasal dari gunung pasir yang berada di sisi kanan dan kiri muara.
"Meski setiap hari dikeruk. Gunung pasir yang berada di kanan kiri muara itu setiap saat longsor. Jadi kalau dikeruk pagi hari, maka sore harinya akan longsor dan muara akan tertutup kembali," tandasnya.

Oleh karenanya, lanjut Sarifudin, dirinya meminta kepada pihak pihak terkait untuk segera memindahkan pasir yang menggunung di kanan kiri muara tersebut.
"Kita minta kepada pihak perusahaan (PT Pulomas, red) yang melakukan pekerjaan pengerukan untuk segera memindahkan gunung pasir yang di kanan kiri muara. Sehingga tidak terjadi

Terpantau, Rabu (13/1/21) sore kondisi muara sudah tertutup oleh bentangan pasir yang diduga berasal dari longsoran gunung pasir di sisi kanan kiri muara, akibatnya tidak sedikit kapal nelayan terpaksa buang jangkar di depan muara.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Babel, Eko Kurniawan lebih memilih bungkam saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon maupun via whatsApp, Selasa (12/1/21) terkait tindak lanjut sanksi administrasi yang dijatuhkan pihak DLH kepada PT Pulomas yang hingga saat ini tidak selesai dilaksanakan.(tim)

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top