Bupati Bangka Hadiri Nujuh Jerami Desa Air Abik

Bupati Bangka Hadiri Nujuh Jerami Desa Air Abik

Advertorial

AIR ABIK BBC -  Dalam rangka safari Ramadhan Bupati Bangka Mulkan S.H.,M.H hadiri dalam acara festival mapur adat nujuh jerami, yang dilakukan di dusun Air abik desa Gunung muda kecamatan Belinyu. Sabtu (24/04/21)

Dalam kegiatan ini dimulai dari acara pembukaan, prosesi adat Nujuh Jerami, sambutan, hiburan pencak silat, doa bersama, penutup, Oshima dan buka puasa bersama dengan adat Nganggung.

Dalam sambutan nya " Kami atas nama pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada tokoh adat kita, dan kami memberi apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat dusun Air Abik ini, yang pertama bagaimana kita untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang dimiliki budaya lokal dan sampai hari ini tetap dipertahankan oleh tokoh adat kita beserta masyarakat yang ada di dusun Air Abik ini," kata Mulkan.

Bahwa kebudayaan Nujuh jerami ini, merupakan rasa syukur dari masyarakat dusun Air Abik, setelah mereka berjuang menanam padi dari membuka laha menjadi ladang sampai menghasilkan padi atau gabah, dan di teruskan ke acara puncak nya hari ketujuh setelah panen raya. Dengan menumbuk padi menjadi beras yang dilakukan  pertama kali oleh ketua adat , dan setelah itu si serahkan ke pembantunya yaitu para ibu ibu berjumlah lima atau tujuh orang untuk menumbuk padi sehingga menjadilah beras yang bisa dimakan . 

Hal ini tidak mengherankan buat saya,  karena saya berasal dari kampung, tapi dikampung saya tidak ada ritual Nujuh jerami, seperti  prosesi tadi, setelah kita numbuk padi kita masak, betul kita tidak boleh makan terlebih dahulu.

 "Jadi yang mencicipi ada perlengkapan pada saat membuka ladang tersebut, berupa batu asah, kemudian parang dan kapak. Jadi batu asah lah yang berjasa pertama karena tanpa batu asah, parang kita dan kapak kita akan tumpul. Baru nanti selanjutnya tadi seperti lesung, seperti alu, selanjutnya mencicipi itu Dan pada saat kita makan,  duduk bersila dan tangan kita harus dari bawah masuk ke mulut kita", jelas Bupati Mulkan 

Ritual Nujuh jerami ini yang harus kita pertahankan dan  sudah menjadi agenda tahunan, juga sudah diakui oleh Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan dan dapat menarik wisatawan.
 
Kita jangan bercerita di akhir, tapi tidak tahu awalnya seperti apa. Inilah yang harus diceritakan agar masyarakat yang datang ke daerah kita dapat mengetahui bahwa kegiatan Nujuh jerami ini bukan hanya kegiatan seremonial.
 

Mulkan berharap masyarakat awam tahu dan mengerti apa itu jerami, nanti bisa disediakan jeraminya. Jadi Nujuh jerami ini adalah kegiatan setelah semua masyarakat selesai panen padi lalu dianginkan atau dikeringkan setelah itu masuk ke rumah." Ungkapnya.

Kami berpesan kepada tokoh adat kita dan regenerasi kita, nilai-nilai kebudayaan ini harus tetap dilestarikan dan kita gali potensi-potensi kebudayaan yang ada di masyarakat, karena merupakan salah satu  pendapatan masyarakat kita karena ada wisatawan datang ke daerah kita.

 

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top