Wes ewes ewes.... Bablas PC nya

Wes ewes ewes.... Bablas PC nya

Hukum

 

 

BANGKA  BBC - Sempat di sebut rusak dan tidak beroperasi saat penangkapan oleh tim gabungan, 2 unit excavator atau power crawl (PC) Hitachi Orange di tambang ilegal milik Amuk Perot di Bedukang pun menghilang. Padahal posisi terakhir kedua unit alat berat tersebut dililit police line. Namun sejak sepekan lalu excavator tersebut bablas, hilang dari lokasi tambang.

"Sudah lama dibawa orangnya dan kalau tidak salah sudah hampir satu minggu ini di bawa kemana kami tidak tahu," terang seorang warga yang ditemui wartawqn Sabtu (11/9/21) pagi.

Tak hanya itu, akibat dari tambang ilegal yang dikerjakan Amuk menyisakan masalah jalan. Amuk disebut sebut sempat merubah posisi jalan umum yang selama ini menjadi akses warga. Kala itu Amuk meminta ijin merubah jalur jalan tersebut, dengan janji akan mengembalikan keadaannya seperti semula. Namun seiring kasus tambang ilegal yang menjerat Amuk, janji memperbaiki kembali jalan tersebut hanya janji kosong kepada warga.

Kondisi tambang yang sempat digerebek tim gabungan itu sendiri saat ini hanya terdapat mesin tambang dan peralatan tambang lainnya milik kru Amuk Perot. Sedangkan 2 unit excavator dalam garis polisi yang sebelumnya masih terparkir di lokasi tambang, saat ini sudah raib. Belum ada pihak yang bertanggung jawab atas menghilangnya 2 excavator tersebut.

Diberitakan sebelumnya Polres Bangka, akhirnya menetapkan Amuk sebagai tersangka illegal mining dengan tuduhan melanggar Pasal 158 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara di Desa Deniang Dusun Bedukang Kecamatan Riau Silip pada Selasa (24/8/21) lalu. Pihak Polres Bangka sendiri dalam perkara ini hanya mengamankan 1 unit excavator sebagai barang bukti termasuk ratusan kilogram pasir Timah basah dari lokasi.

Sebelumnya Kasat Reskrim Polres Bangka, AKP. Ayu mengatakan bahwa kasus ilegal mining yang menjerat Amuk tidak berkembang kepada penampung. Karena Amuk bekerja baru 2 minggu sedangkan hasil yang didapat baru 800 kilogram pasir basah.

Pernyataan AKP Ayu ini justru kontroversi dengan data dari PT. Timah Tbk, yang sempat dirilis oleh kompas.com. Dalam versi PT. Timah Tbk Amuk sudah bekerja sejak 3 bulan sebelum ditangkap tim gabungan. Dengan penghasilan sekitar 150 kilogram perhari. Jika mengacu dari data ini, diperkirakan Amuk sudah mendulang belasan ton pasir Timah sejak bekerja menjarah di IUP OP milik PT. Timah tersebut. Namun pihak penyidik mengatakan Amuk baru bekerja 2 minggu.

Hingga berita ini dirilis, Kasat Reskrim AKP Ayu Kusuma Ningrum belum bisa dikonfirmasi tentang keberadaan 2 unit alat berat yang raib dari lokasi tersebut. Pesan singkat yang dikirimkan pada Sabtu (11/9/21) belum ditanggapi. (Oc)

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top