Radmida Dawam Bersaksi Dalam Sidang Perkara Dugaan Korupsi BPRS Cabang Taboali

Radmida Dawam Bersaksi Dalam Sidang Perkara Dugaan Korupsi BPRS Cabang Taboali

Advertorial

 

PANGKALPINANG BBC - Radmida Dawan, bersaksi atas perkara korupsi, BPRS Bangka Belitung, Cabang Toboali dengan terdakwa Effriansyah, selaku mantan pemimpin BPRS Cabang Toboali dan Nazwien Nadjamuddin alias Nazwin Fachrozie alias Nazwin selaku debitur, di ruang Garuda Pengadilan Negeri PHI / Tipikor Negeri Kelas 1A.Jumat sore (8/10/2021)

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Zulkarnain Harahap, menyebut pada sidang kali ini ada tiga saksi yang dihadirkan pihaknya.

Pertama, Radmida Dawan selaku Komisaris Utama PT BPRS Bangka Belitung, Ichwan selaku Auditor Internal BPRS dan Basti selaku marketing di BPRS Babel Cabang Toboali.

"Hari ini ada tiga saksi yang kami hadirkan majelis. Saksi pertama atas nama Radmida Dawan selaku komisaris utama BPRS, Ichwan auditor internal dan Basti marketing BPRS Toboali," jelas Zulkarnain kepada ketua majelis hakim, Iwan Gunawan.

Pada sidang lanjutan tersebut, Iwan didampingi dua hakim anggota MHD Takdi dan Warsono. Sidang juga dihadiri, tiga JPU dan kuasa hukum terdakwa Nazwin, Aldi Putranto.

Di muka persidangan, Radmida menyebut dirinya diangkat menjadi  Komisaris di BPRS Bangka Belitung, Juli tahun 2018.

Sebagai komisaris, Radmida mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap kebijakan direksi BPRS Bangka Belitung, baik pusat maupun cabang.

"Saya ditunjuk sebagai Komisaris BPRS Babel, sejak Juli 2018, sebagai komisaris tugas saya  melakukan pengawasan terhadap kebijakan kebijakan oleh direksi," ujar Radmida.

Sebelumnya, Radmida juga tidak mengetahui adanya pembiayaan yang tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) di sejumlah direksi BPRS.

Penyimpangan tersebut baru ia ketahui setelah, menerima hasil  audit laporan keuangan PT BPRS Bangka Belitung. Bahkan, banyaknya temuan pembiayaan yang tidak sesuai SOP, sempat membuat Radmida syok.

"Jujur pak, saya saja kaget, pas masuk tahu-tahu banyak masalah pembiayaan yang tidak sesuai SOP, kalau tahu bakal jadi begini, saya tidak mau jadi komisaris," sesal Radmida.

Banyaknya pembiayaan yang tidak sesuai SOP, membuat dalam kurun dua tahun terakhir, PT BPRS Bangka Belitung, tak mendapat deviden (keuntungan)

Saksi Radmida, mengemukakan PT BPRS Bangka Belitung, mulai tidak mendapat deviden sejak tahun 2019 hingga  2020. Sementara, tahun tahun sebelumnya, deviden selalu diperoleh pihaknya.

"Dua tahun belakangan inilah BPRS tidak mendapat deviden. Kalau tahun tahun sebelumnya, Alhamdulillah kita dapat deviden terus," jelas Radmida.

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top