Pemuda Tani HKTI Berharap Pemerintah Melakukan Langkah Startegis Mengatasi Kelangkaan Pupuk
Iluterasi (net)

Pemuda Tani HKTI Berharap Pemerintah Melakukan Langkah Startegis Mengatasi Kelangkaan Pupuk

Nasional

Jakarta BBC – Petani di seluruh Indonesia kembali mengeluhkan harga pupuk non 
subsidi. Harga berbagai jenis pupuk naik berkali-kali lipat. Pupuk Urea misalnya dari 
harga Rp.280.000/50kg di tahun 2021, sekarang Rp.500.000/50kg. Bahkan di luar 
Jawa sampai Rp.600.000/50kg. Pupuk NPK juga sama, naik sangat signifikan. NPK 
Mutiara dari Rp.400.000/50kg kini Rp.600.000. Untuk Phonska dari Rp.170.000/25kg 
menjadi Rp.260.000. Jadi trennya naik dan ini sejak Oktober 2021 dan berlangsung 
sampai awal Januari ini.
 
Hal ini disampaikan Ketua Umum DPP Pemuda Tani HKTI, Rina Saadah dalam
keterangan pers, Selasa (11/1/2022) di Jakarta.
Memang kenaikan harga pupuk non subsidi tidak terlepas dari kenaikan harga 
berbagai bahan baku dipasar internasional seperti phosphate rock, KCL, amonia, 
gas bumi dan lain-lain akibat pandemi, dan diperparah lagi dengan kebijakan 
beberapa negara yang menghentikan ekspornya terutama gas. Dan Kementerian 
Perdagangan telah membuat proyeksi bahwa harga pupuk non subsidi akan naik
sepanjang tahun 2022 karena harga bahan baku memang sedang naik.
Merujuk data World Bank-Commodity Market Review per 4 Januari 2022, Pupuk 
Urea dan diamonium fosfat misalnya naik cukup signifikan. Urea mengalami 
peningkatan harga mencapai 235,85 persen sepanjang 2021. Dari US$265 per ton
naik menjadi US$890 per ton pada Desember 2021. Sedangkan diamonium fosfat 
naik 76,95 persen dari US$421 per ton, menjadi US$745 per ton.
 
Jelas kenaikan harga pupuk non subsidi ini akan memengaruhi inflasi pada 
komoditas pangan dan itu sudah terjadi diawal tahun 2022 ini. Ujungnaya adalah 
pendapatan petani berada di bawah standar impas dan ini akan terjadi sampai 
beberapa bulan kedepan jika tidak ada jalan keluar yang tepat.
Sekretariat: Jl. Taman Lawang No. 01 Menteng Jakarta Pusat
Website: www.pemudatani.id @hktimu Email: pemudahkti@gmail.com
Pemuda Tani HKTI berharap pemerintah melakukan langkah-langkah startegis 
setidaknya kenaikan harga pupuk non subsidi ini tidak membuat petani makin 
merana. Misalnya bagaimana Kementan bersama Kemendag dan Kemenperin 
berkoordinasi dengan ke 5 BUMN yang selama ini menjadi produsen pupuk yakni 
PT. Pupuk Sriwjaya (Pustri), PT Pupuk Kaltim (PKT), dan PT Pupuk Iskandar Muda 
(PIM), PT Petro Kimia Gresik (PKG), dan PT Pupuk Kujang (PK) menjaga harga 
pupuk non-subsidi tetap terjangkau oleh petani namun tidak membuat rugi juga 
produsen. Ke lima BUMN bisa memberikan harga di bawah harga internasional 
untuk menjaga akses pupuk bagi petani.
Sebab peningkatan produktivitas pangan sangat banyak dipengaruhi (salah satunya)
oleh pemupukan. Proses pemupukan yang tepat sasaran berkontribusi tinggi dalam pencapaian produksi.

Berita Terkait

Komentar Facebook

Back to Top